™ Warga Berjatuhan dengan Mulut Berbusa Kala Gas Serang Suriah,

Jannet 04.18
Kala Gas Serang Suriah, Warga Berjatuhan dengan Mulut Berbusa

Mata Mohammad terbelalak ketika melihat ibu, ayah, dan keponakannya tiba-tiba terjatuh ke tanah, kemudian kejang-kejang di depan rumahnya di Kota Khan Sheikhun, Suriah.

Sejenak Mohammad tertegun dan tak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi saksi sejarah dugaan penggunaan senjata kimia dalam serangan yang menewaskan 72 orang di kotanya tersebut pada Selasa (4/4).

tapi ia hampir tak dapat membuka matanya ketika menuturkan kembali kisah mengerikan itu kepada AFP, sehari setelah serangan di daerah kekuasaan pemberontak tersebut.
Saat itu Mohammad terbelalak,

"Kami mendengar kebisingan di luar, jadi ayah saya keluar dan melihat seseorang tergeletak di jalan. Ia pingsan dan mulai kejang-kejang, lalu ibu saya berteriak, 'Kemari! Lihat ayahmu!'" tutur Mohammad lirih.

Mohammad bersama adik dan putranya yang baru berusia empat tahun lantas keluar rumah untuk membantu ayahnya.

"Ibu saya berteriak, berdiri di sana, dan tiba-tiba dia juga jatuh, kemudian anak saya, kemudian adik saya," ucap Mohammad.

Busa putih keluar dari mulut mereka. Tubuh mereka kejang-kejang dan akhirnya tewas di tempat. Hanya adik Mohammad yang berhasil selamat.

"Kami merasa ada kimia di sana, tapi tak terpikir untuk lari. Kami hanya berpikir untuk menyelamatkan orang lain dan membawa mereka," kata Mohammad.

Dokter yang merawat Mohammad mengatakan, lebih dari 160 orang mengalami hal serupa ketika serangan itu terjadi, salah satunya adalah Abdulhamid.

Kala Gas Serang Suriah, Warga Berjatuhan dengan Mulut Berbusa
Kala Gas Serang Suriah, Warga Berjatuhan dengan Mulut Berbusa

Dokter yang merawat Mohammad mengatakan, lebih dari 160 orang mengalami hal serupa ketika serangan itu terjadi. (Reuters/Ammar Abdullah) "Kami mengenakan masker, tapi tak berpengaruh apa-apa. Orang-orang mulai berjatuhan ke tanah. Sembilan belas anggota keluarga saya tewas," ujar Abdulhamid yang terkulai lemas dengan infus di tangannya.

Di tengah pemandangan mengerikan itu, Abdulhamid tetap berusaha menolong orang di sekitarnya. Saat itu, ia menyaksikan pemandangan mengerikan yang tak akan terlupakan.

"Seseorang akan datang membantu kami membawa korban terluka dan mereka sendiri tiba-tiba jatuh hingga akhirnya gas itu menguasai semua orang," katanya.

Abdulhamid sendiri sudah tak sadarkan diri ketika ambulans berdatangan. Ketika tersadar, Abdulhamid hanya dapat terperangah karena mendapat kabar bahwa istri dan kedua anaknya tewas.

Membantu Abdulhamid bercerita, seorang kerabatnya kemudian berkata, "Saya juga melihat orang kejang-kejang, Orang-orang yang menolong kemudian juga menunjukkan gejala serupa." jatuh ke tanah dan mulutnya berbusa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Dokter Lintas Batas (MSF) mengatakan bahwa gejala pada setiap korban sama. Gejala itu diduga kuat merupakan akibat racun saraf, seperti sarin.

termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Serangan ini pun mendapat kecaman luas dari komunitas internasional,

Sebagian besar pihak menuding pemerintah Bashar al-Assad merupakan dalang di balik serangan di daerah kekuasaan pemberontak tersebut.

Namun, Rusia sebagai sekutu Assad mengatakan bahwa saat itu, pasukan pemerintah Suriah menghantam satu gudang pemberontak yang ternyata menyimpang senjata kimia.

Abdulhamid sendiri tak peduli pihak mana yang melakukan serangan tersebut. Ia hanya dapat berharap pelaku serangan itu mendapat balasan yang setimpal.

"Kami hanya dapat bersandar kepada Tuhan. Tuhan tidak tidur. Dia tidak akan melupakan siapa pun," katanya.


Source: CNN Indonesia

Artikel Terkait

EmoticonEmoticon

:)
:(
=(
^_^
:D
=D
=)D
|o|
@@,
;)
:-bd
:-d
:p
:ng

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.