TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia yang tercerai beraikarena sentimen agama pada Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta membuat sebagian orang prihatin dan berinisiatif menggelar sejumlah kegiatan yang menggambarkan kerukunan.
Umat Kristiani RT 06, Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, menjadi panitia persiapan syawalan di desa itu. Penduduk menjadikan lapangan voli dusun itu sebagai tempat syawalan. Umat Kristiani menyiapkan peralatan untuk acara, seperti meja dan kursi. Mereka juga menghidangkan makanan dan minuman.
Djaduk Ferianto, seniman kondang Yogyakarta yang juga warga RT 6, Kembaran, Tamantirto, Kasihan, ikut dalam acara tersebut. Djaduk yang beragama Katolik tak canggung berbaur dengan umat Islam saat syawalan berlangsung. Ia mengatakan tradisi syawalan sudah berlangsung lama di lingkungan tempat tinggalnya.
Intoleransi yang mencuat akhir-akhir ini mendorong penduduk mengekpresikan kegundahan mereka dengan kegiatan-kegiatan, yang menggambarkan kerukunan. "Kami ingin mempertegas tentang Kebhinekaan Indonesia. Umat Kristiani dan umat Islam bahu-membahu, saling membantu menyiapkan syawalan," kata dia, Selasa, 27 Juni 2017.
Riuh persiapan syawalan terjadi sebelum salat Idul Fitri pada Minggu, 25 Juni 2017. Anak-anak muda dan bocah-bocah mengikuti malam takbiran. Pagi hari, setelah umat muslim selesai menunaikan salat Idul Fitri, umat Islam dan Kristiani berkumpul di lapangan voli. Mereka saling bersilaturahmi. Umat Kristiani mengucapkan selamat Lebaran. Umat Islam memberikan sambutan ketika syawalan berlangsung. "Indah sekali persaudaraan kami," kata Djaduk.
Menurut dia, harmoni antar umar beragama di Dusun Kembaran sudah berlangsung lama. Selama ini mereka hidup rukun dan tidak pernah ada konflik berlatar agama. Ketika Idul Fitri tiba, umat Kristiani membantu menyiapkan tradisi syawalan umat Muslim. Sebaliknya, ketika umat Kristiani merayakan Natal, umat Muslim pun membantu mereka. Umat Muslim ada yang menjadi petugas parkir di sekitar gereja di dusun itu.
Padepokan seni Bagong Kussudiarja yang berada di RT 05, bersebelahan dengan RT 06, telah menerapkan praktek toleransi sejak tahun 1968. Pada tahun itu, pusat tari Bagong Kussudiarja mementaskan sendratari kelahiran Yesus.
Yang menarik, pemeran Yesus waktu itu adalah seorang muslim. Tahun 1980-an, sendratari itu dipentaskan ketika ada tur di Eropa di katedral. "Penontonnya terperangah karena pemerannya seorang muslim yang menjiwai karakter Yesus," kata Djaduk.
Ia mengatakan ayahandanya, Bagong Kussudiardjo pernah berperan sebagai imam salat dalam film berjudul Al Kautsar. Film ini menceritakan pemuda bernama Saiful Bachri (WS Rendra), seorang guru mengaji di pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah.
Bagong yang merupakan umat Kristiani tak canggung berperan sebagai imam saat salat bersama WS Rendra. Syuting film religi yang disutradarai Chaerul Umar itu berlangsung tahun 1977. Bagong melihat pesantren Pabelan Magelang sebagai pesantren yang bagus menerapkan toleransi.
Menurut Djaduk, Bagong terinspirasi dari pesantren itu saat mendirikan Padepokan Bagong. Djaduk mengunggah foto ayahnya yang sedang bermain film mengimami WS Rendra yang sedang salat di akun Facebook-nya.SHINTA MAHARANI Pada Lebaran kali ini,
Source: Tempo.co
EmoticonEmoticon
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.